Bahasa dialek ngapak

Bahasa dialek ngapak 

Bahasa dialek ngapak adalah Bahasa daerah yang digunakan masyarakat di daerah Banyumas disebut bahasa Banyumasan. Bahasa Banyumasan yaitu bahasa Jawa dialek Banyumas. Dialek Banyumas merupakan salah satu dialek bahasa Jawa di samping dialek Solo-Yogyakarta,Surabayaan, Banyuwangi Madiun-Kediri, Semarangan, tegal,Cirebon-Indramayu, Banten.
dialek bahasa jawa ngapak banyumasan
dialek bahasa jawa ngapak

Bahasa Jawa mengenal tingkatan dalam penggunaantrya, yaitu ngoko, krotno, dan krama inggil.Tetapi menurut Dirdjosiswojo, bahasa Jawa baku hanya satu, yaitu tembung ngoko *)
Timbulnya tingkatan bahasa seperti tersebut di atas karena hubungan keseimbangan untuk saling hormat menghormati atau unggah-ungguh pada zaman dahulu. *) pirdjosiswojo, KramaInggil. Djakarta-.jogjakarta, Kalimosodo, l957

Ngoko, yaitu bahasa yang digunakan orang yang kira-kira sama derajatnya atau kepada yang lebih rendah. Seperti, antara anak dengan anak, orang tua dengan anak, majikan dengan pembantu dan orang tua sebaya dengan yang sudah akrab. Pemakaian bahasa ngoko terkadang dicampur dengan bahasa kromo atau kromo inggil, khususnya untuk menyebut kata ganti orang kedua. Hal itu disebut dengan ngoko andhap, sedangkan yang asli disebutngoko lugu.

Kromo, yaitu bahasa tingkatan kedua (halus) yang biasa dipakai oleh orang yang muda kepada yang lebih tua atau yang derajatnya lebih tinggi, atau kepada yang sederajat tetapi belum akrab. Dalam penggunaannya sering juga dicampur dengan kromo inggil, biasanya dipergunakan orang muda kepada orang tua atau orang tua kepada yang lebih muda, tetapi lebih tinggi derajatnya.

Kromo inggil, tingkatan bahasa yang paling halus. Biasanya dipergunakan oleh golongan priyayi dengan priyayi agung. Biasanya kata ganti orang pertama atau kedua lebih diperhalus. Di samping itu ada juga penggunaan bahasa lainnya, yaitu krama deso, bahasa bogongan(bahosa keraton), bahasa Jawa pedalangon. Orang-orang Banyumas umumnya lebih suka menggunakan bahasa ngoko atau ngoko andhap, khususnya bagi sesama Banyumas karena dirasakan lebih akrab. Bahasa kromo atau kromo inggil dipergunakan sekali dua saja, setelah tahu yang diajak bicara orang Banyumas biasanya kembali menggunakan ngoko. Orang-orang yang tinggi pangkatnya pun dapat akrab dengan orang biasa atau masyarakat kebanyakan. Dapat dilihat dari kepribadian para tokoh dari Banyumas. Hal ini dapat terjadi karena Banyumas jauh dari lingkungan keraton yang mengakibatkan belum adanya pengaruh unggoh-ungguh.

Pemakaian Dialek ngapak Banyumas


Pemakaian Dialek bahasa  ngapak Banyumas dipergunakan masyarakat daerah eks Karesidenan Banyumas yang meliputi 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Cilacap. Di Cilacap bagian barat yang berbatasan dengan Pasundan bahasa Jawa telah tercampur bahasa Sunda (bahasa Jawa Reang), yaitu disekitar Majenang.
pemakaian dialek ngapak banyumasan
pemakaian dialek ngapak banyumasan

Dialek ngapak  Banyumas juga dipakai di daerah-daerah yang dahulunya pernah masuk wilayah kekuasaan para bupati Banyumas seperti daerah Gombong, Kebumen, dan Karanganyar. Tidak mengherankan banyak masyarakat dari daerah tersebut diperantauan khususnya di Jakarta yang bergabung dengan kelompok Banyumasan karena persamaan bahasa dan latar belakang kebudayaan lainnya. Menurut penelitian yang pernah dilakukan Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, dialek Banyumas memiliki sub dialek geografis dan dialek sosial. Sub dialek geografis tersebut antara lain : Sub dialek Purwokerto-Banyumas, Ajibarang, Cilacap dan sub dialek Sunda Banyumas yang tadi disebut bahasa Jawa Reang.
Perbedaan sub dialek ini terutarna pada kosa kata, namun tidak mengganggu lancarnya hubungan komunikasi.

Dialek sosial dibedakan antara dialek rakyat jelata dan dialek kaum cerdik pandai. Dialek rakyat jelata atau pedesaan umumnya masih murni, sedangkan dialek kaum cerdik pandai (biasanya diperkotaan) sudah terpengaruh bahasa Jawa baku atau bahasa Indonesia.

perbedaan dengan dialek jawa lainnya

Dalam hal ucapan, dialek ngapak Banyumas mempunyai banyak perbedaan dengan dialek Yogya-Solo yang dijadikan bahasa Jawa Baku atau standar. Secara garis besar perbedaan itu dapat kita kelompokkan menjadi tiga hal :

l) Kata yang ucapannya sama namun maksud berbeda dan sebaliknya. Misalnya kata berag dalam dialek Banyumas artinya birahi atau masa akil baligh, dalam dialek Yogya-Solo berarti gembira.
2) Maksud sama, kosa kata berbeda. Misalnya (band) kyangen, dalam dialek Yogya-Solo tidak dijumpai. Yang ada tansah laranen. Kedua kata itu mempunyai maksud yang sama, yaitu sakit-sakitan. Juga kata yang berarti cantik, dialek Yogya-Solo menyebut ayu, dialek Banyumas menyebut mlowes, mbepleng, moncer. Kosa kata dialek Banyumas yang jumlahnya cukup banyak dapat dilihat pada bagian Daftar kata.

Kata yang hanya berbeda ucapannya saja, arti dan tulisan sama.
Hal ini dapat dirinci sebagai berikut :

a. Huruf k pada akhir suku kata diucapkan dengan suara k asli (medok), misalnya Bapak, anak, awak, enak tidak dibaca bopo', ono', owo', eno'.
b. Pengucapan vokal dialek Banyumas hanya ada enam, yaitu (a, i, u, e, o, e).Tidak ada vokal berbunyi antara a dengan o,e dan i. Jadi mirip dengan bahasa Jawa Kuna. Vokal a dibaca jelas seperti dalam bahasa Indonesia, misalnya laro, kula, sega.
c. Mengikuti penjelasan Dr. B.J. Esserl*) suara h pada awal kata kedengaran lebih jelas,'seperti : hikmat, Ha-a, hus. *)g.J. Esser, Het Dialect von Banjoemos.
d. Sesudah suku kata terbuka pada akhir kata biasanya kedengaran ada huruf h (wignyan) seperti : keneh, trukah,dhukuh, kandhah. Dalam dialek Yogya-Solo diucapkan kene, truka, dhuku, kandha.
e. Konsonan h yang terletak di tengah kata diucapkan dengan suara seperti huruf kha dalam huruf Arab, seperti murahkhan, takhan, sekolokhan dibaca dalam dialek Yogya-Solo menjadi
muraan, tahan, Sekolaan.
f. Suara o dalam dialek Yogya-Solo menjadi u dalam dialek Banyumas, misalnya omoh,kodanon,oleh menjadi umah,kudanen, ulih.
g. Suara u kadang-kadang kedengaran e (pepet) seperti Yogya-Solo suwek, gluweh, kluwak dalam dialek Banyumas menjadi sewek, gleweh, klewek.
h. Huruf r (Yogya-Solo) mengganti I (Banyumas). Misalnya prakaro menjadi plekarah.
i. Huruf a di depan akhir suku kata kadang-kadang dibaca e(pepet) seperti : kluwok, pijar dalam dialek Banyumas menjadi klewek, pijer.
j. Huruf i (Solo) menjadi e (Banyumas). Misalnya kiwa menjadi kewe.
k. Huruf k (Solo) dalam dialek Banyumas menjadi g. Contohnya kori, kur, kinclong kinclong, cocok menjadi gari,gur, ginjlong-ginjlong, cocog.
l. Bunyi suara e maupun e dalam dialek Banyumas semuanya bersuara e. Seperti kata lele, ngece, tempe diucapkan lele, ngece, tempe.


Sistem Tata Kalimat dialek ngapak banyumas


Pada dasarnya pola struktur kalimat dialek ngapak Banyumas sama dengan kalimat bahasa Jawa baku. Menurut para ahli perbedaannya hanya terletak pada bentuk kata kerja yang berfungsi sebagai predikat dan varian perbendaharaan kata pendukung kalimat. Faktor penting yang menjadi ciri khas kalimat dalam dialek ngapak Banyumas ialah intonasi. Intonasi kalimat dialek ngpak Banyumas tampak lebih tegas, jelas dan lebih mantap atau lepas. Sering juga dikatakan bicaranya ceplas-celpos, karena tegasnya. bagi orang Jawa di luar Banyumas jika mendengar pembicaraan orang Banyumas akan menduga mereka sedang bertengkar.

Orang-orang Banyumas menyebut dialek bahasa Jawa Yogya-Solo yang dijadikan bahasa baku dengan sebutan Badhek. Mungkin berasal dari kata gandhek yang berarti utusan. Menurut sejarahnya, daerah Banyumas dahulu sering didatangi para utusan dari Surakarta. Para gandhek tadi jelas menggunakan bahasa Jawa dialek Solo, karena itulah orang Banyumas menyebut bahasa Jawa dialek Solo dengan bahasa Gandhek yang kemudian berubah menjadi bahasa Bandhek.

Karena struktur kalimat bahasa dialek Banyumas sama dengan bahasa Jawa baku, orang-orang Banyumas Dapat menangkap pembicaraan orang-orang berbahasa Jawa baku. Sebaliknya orang-orang Jawa di luar Banyumas mengalami kesulitan mengikuti pembicaraan dengan dialek Banyumas. Ditambah dengan banyaknya perbendaharaan kata dialek Banyumas yang tidak terdapat pada atau berbeda dengan bahasa Jawa baku. Dari segi ucapan dialek Banyumas lebih mendekati ucapan bahasa Indonesia sehingga anak-anak Banyumas asli lebih mudah belajar bahasa Indonesia daripada anak di luar Banyumas yang berbahasa Jawa baku.

0 Response to "Bahasa dialek ngapak"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel