prospek dan perhitungan usaha sapi perah

Potensi usaha ternak sapi perah

 di Indonesia ternyata mengalami pasang surut baik daerah maupun jumlah peternaknya. menurut data tahun 1963, sapi perah tersebar di 16 wilayah yang dipelihara lebih dari 54 ribu petani dan pada tahun 1993 sapi perah hanya ada di 5 wilayah, yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur dengan jumlah pelaku usahanya sebanyak 98 ribu rumah tangga peternak. untuk lebih jelasnya bisa lihat tabel popilasi peternak sapi perah berikut.
jumlah rumah tangga peternak sapi perah nasional indonesia dari tahyun ke tahun
jumlah rumah tangga peternak sapi perah nasional
kepemilikan Rata-rata sapi perah di Indonesia masih berkisar antara 3 – 4 ekor per rumah tangga petani. kepemilikan sapi perah yang rendah disebabkan karena adanya keterbatasan yang dimiliki peternak, baik modal, pengetahuan, keterampilan, lahan dan sebagainya.

Berdasarkan perhitungan saat ini, titik impas atau BEP ( break even point ) usaha peternakan sapi perah adalah pada angka 9,36 ekor, sehingga dengan kepemilikan dibawah angka tersebut, pendapatan peternak dari usaha sapi perah belum seperti yang diharapkan.

ANALISA USAHA SAPI PERAH 

Berikut ini adalah Contoh analisa usaha peternakan sapi perah dengan skala usaha 5 ekor induk
1.Pembelian    x Rp. 9.000.000,- =   Rp.45.000.000,- bibit 5 ekor
2. Kandang dan peralatan  =   Rp. 9.000.000,-
3. Penyusutan :
a. Bibit diafkir umur 10 tahun, harga afkir Nilai penyusutan   x 5 ekor  =   Rp. 375.000,- Rp. 75.000/bulan
b. Kandang masa pakai 10 tahun, harga bekas   Nilai susut Rp. 75.000/bulan =   Rp. 75.000,-

Pengeluaran biaya / bulan :
 1. Biaya tetap :
a. Bibit =  Rp.   375.000,-
b. Kandang dan peralatan =   Rp.     75.000,-
total atau Jumlah (a) =   Rp.   450.000,-

2. Biaya tidak tetap :
 a. Pakan hijauan =  Rp.    600.000,- (5 x 40 Kg x 30 x Rp. 100,-)
b. Konsentrat =  Rp. 1.620.000,- (5 x 6 Kg x 30 x Rp. 1.800,-)
c. Tenaga kerja 1 orang =  Rp.  1.000.000,-
d. Obat-obatan  =  Rp.     200.000,-
e.  Lain-lain =  Rp.     100.000,- 
maka Jumlah (b) =  Rp.  3.520.000,-

biaya tetap + biaya tdak tetap = (a+b) =  Rp   3.970.000,-

Total biaya perubahan     =  Rp. 47.640.000,/thn (Rp. 3.970.000,-/bulan x 12 bulan)
Penerimaan Usaha sapi perah (dalam 1 tahun) :
Produksi rata-rata selama satu masa laktasi sebesar 10 liter/ek/hari, dimana minimal 4 ekor sapi yang berproduksi.
1. Penjualan susu  4 ek x 10 lt x 30 hr x Rp. 3.000,- x 12 bulan =  Rp. 43.200.000,-
2. Penjualan Pedet 4 ekor x Rp. 4.000.000,- =  Rp. 16.000.000,-
3.   Pupuk 5 ekor x 10 kg x Rp 100,- x 365 hari =  Rp.   1.825.000,

- Total penerimaan / tahun=  Rp. 61.025.000,
- Keuntungan usaha sapi perah (B-A)  =  Rp. 61.025.000,- – Rp. 47.640.000,- =  Rp.13.385.000,-/tahun =  Rp.1.115.420,- / bulan. 

Dari perhitungan usaha sapi perah tersebut keuntungan perbulan masih kecil, kerana itu kita harus menambah jumlah sapi perah yang kita miliki. seperti yang sudah disebutkan diawal BEP ( break even point ) atau titik usaha dikatakan tidak rugi atau tidak untung pada usaha peternakan sapi perah adalah pada angka 9,36 ekor.

 untuk lebih jelas mengenai berapa ekor sapi perah yang harus dipelihara dalam usaha sapi perah  bisa simak tabel Perhitungan Kelayakan Finansial Usaha Peternakan Sapi Perah pada berbagai Skala Usaha Pemilikan Ternak berikut.
tabel Perhitungan Kelayakan Finansial Usaha Peternakan Sapi Perah pada berbagai Skala Usaha Pemilikan Ternak
tabel kelayakan usaha sapi perah

Pembahasan tabel  Perhitungan Kelayakan usaha sapi perah

Nilai IRR pada skala Usaha I dan II lebih kecil dari tingkat suku bunga bank yang berlaku yaitu sebesar 12,4 persen dan 12,1 persen. Hal ini berarti bahwa tingkat suku bunga bank yang berlaku sekarang masih belum bisaditerapkan pada skala usaha I dan II, sehingga perlu dirumuskan ulang besaran tingkat suku bunga bank yang sesuai.  Sedangkan nilai IRR pada Skala Usaha III, IV, V dan VI memiliki nilai lebih besar dari tingkat suku bunga bank yang berlaku 14 %.  Hal ini berarti bahwa tingkat suku bunga bank tersebut sudah sesuai untuk skala usaha III, IV, V dan VI .

Perhitungan nilai Net B/C ratio pada skala usaha I dan II sebesar 0,98 dan 0,91 memiliki nilai kurang dari satu (<1) pada tingkat suku bunga bank 14 %.  Nilai tersebut menunjukkan setiap penambahan Rp 1,- pengeluaran bersih akan memberikan manfaat bersih sebesar Rp 0,98 dan Rp 0,91 hal ini karena nilai Net B/C ratio < 1 maka usaha tersebut dalam skala usaha bisnis, dinyatakan tidak layak usaha.


Namun pada skala usaha III, IV, V dan VI memiliki nilai lebih besar dari satu (<1) pada tingkat suku bunga bank 14 %.  Nilai tersebut menunjukkan setiap penambahan Rp 1,- pengeluaran bersih akan memberikan manfaat bersih sebesar Rp 1,1 hal ini karena nilai Net B/C ratio > 1 maka usaha tersebut dalam skala usaha bisnis, dinyatakan layak.

Alternatif Pembiayaan Bagi Pengembangan Usaha Sapi Perah 
Alternatif skema pembiayaan disusun menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat suku bunga bank dan lama pinjaman kredit yang layak untuk usaha peternakan sapi perah. Tingkat suku bunga bank dan lama pinjaman kredit diperoleh dari perhitungan kelayakan finansial yang menggunakan tiga kriteria investasi yaitu Net Present Value, Internal Rate Of Retur dan Payback Period.  
 Berdasarkan hasil analisis keuntungan dan kelayakan finansial secara cash flow menunjukkan bahwa investasi yang telah ditanamkan untuk usaha sapi perah pada  skala usaha dapat dikembalikan dalam jangka waktu 3 tahun.
berarti jika peternak diberikan  pinjaman dari lembaga perbankan akan mampu mengembalikan pinjaman paling cepat dalam kurun waktu 3 tahun.   Sedangkan untuk tingkat suku bunga bank yang layak, hanya pada skala usaha III, IV, V, dan VI diperoleh tingkat suku bunga bank lebih dari 14 %.  Pada skala usaha I dan II diperoleh tingkat suku bunga bank kurang dari 14 %. Hal ini berarti untuk kredit dengan tingkat suku bunga bank yang ada masih belum sesuai, sehingga perlu dirumuskan ulang besaran tingkat suku bunga bank yang sesuai.



kesimpulan
Berdasarkan analisa usaha yang telah dilakukan pada berbagai skala usaha sapi perah dapat disimpulkan bahwa :
 1. Keuntungan tertinggi usaha sapi perah terdapat pada skala usaha III s/d VI dengan skala pemilikan ternak diatas 11 satuan ternak, makin banyak ternak yang diusahakan maka makin besar pula keuntungan yang diperoleh, sedangkan pada skala usaha I dan II dengan pemilikan ternak krang dari 10 satuan ternak, tidak layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan.
2. Skala usaha dengan pemilikan ternak diatas 11 satuan ternak, dapat menggunakan skema pembiayaan pada tingkat suku bunga bank 14 %.  Namun demikian, pada skala usaha I dan II tingkat suku bunga  untuk skema pembiayaan harus disesuaikan.
 3. Lama pengembalian investasi yang baik pada skala usaha, yaitu 3 tahun.  

0 Response to "prospek dan perhitungan usaha sapi perah"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel