Latest Posts

perbandingan Penyembelihan Metode Konvensional dan Metode Pemingsanan

halo kawan mas ely semuanya, kali ini saya akan membagikan artikel tentang perbandingan Penyembelihan Metode Konvensional dan Metode Pemingsanan.
Penyembelihan hewan adalah usaha pembunuhan hewan, umumnya hewan yang diternakkan untuk dijadikan bahan pangan. Hewan yang disembelih pada umumnya adalah sapi, kerbau, domba, kambing, babi, kelinci, unta, kuda, ayam, bebek, kalkun, dan juga ikan yang dibudidayakan dalam usaha budi daya perikanan.

perbedaan  Penyembelihan Metode Konvensional dan Metode Pemingsanan

secara umum metode penyembelihan hewan ternak di Indonesia ada dua, yaitu

1. Penyembelihan konvensional

Metode penyembelihan manual merupakan metode yang lazim dan banyak di gunakan di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan metode ini yaitu dengan merebahkan hewan secara manual, kemudian disembelih.
Penyembelihan Metode Konvensional
Penyembelihan Metode Konvensional



Kekurangan metode ini yaitu proses perebahan hewan yang cenderung kasar… dan saat disembelih hewan terlihat meronta-ronta. Selain itu, metode ini juga tidak efektif untuk penyembelihan hewan dalam skala besar.

2. Penyembelihan dengan stunning (pemingsanan)

Pada metode ini hewan terlebih dahulu dilemahkan/dipingsankan dengan menggunakan captive bolt stun gun, baru kemudian disembelih. Dengan metode pemingsanan ini diharapkan hewan tidak merasa kesakitan saat dipotong (sesuai standar kesehjateraan hewan) dan lebih mudah karena hewan tidak berontak.
Penyembelihan Metode pemingsanan
Penyembelihan Metode pemingsanan
Yang menjadi masalah adalah cara memastikan bahwa hewan hanya sekedar pingsan, bukan mati. Cara kerja captive bolt gun yaitu kepala hewan ditembak dengan kaliber tumpul, yang menyebabkan kerusakan pada jaringan otak, sehingga ternak akan goyah dan pingsan.

Tanpa pertimbangan ukuran kaliber yang tepat, perlakuan ini dapat menyebabkan hewan mengalami memar atau fraktur pada os frontalis, rusaknya jaringan otak secara akut dan hewan mati terlebih dahulu sebelum disembelih. Jika hewan mati sebelum disembelih, daging hewan tersebut tidak lagi halal untuk dimakan (secara islam).
Kendati demikian, metode ini sangat efektif untuk proses penyembelihan hewan dalam skala besar.
penyembelihan hewan harus memperhatikan prinsip animal walfare atau kesejahteraan hewan…

Mengenai hal ini, UU Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2009 Bab VI Bagian kedua Pasal 66 ayat (2) menjelaskan:
Penyembelihan hewan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut, dan tertekan, penganiayaan, dan penyalahgunaan.

Selain itu, tata cara penyembelihan dalam islam mengharuskan hewan tersebut mati karena disembelih dengan tiga saluran pada leher, yaitu esofagus, trakhea, dan pembuluh darah terpotong.

Kesempurnaan Kematian Hewan

Pada proses penyembelihan hewan selain harus memperhatikan aspek persyaratan halal, juga perlu diperhatikan aspek kenyamanan hewan atau memperlakukan hewan dengan cara terbaik (ihsan), sehingga akan diperoleh hasil pemotongan yang halal dan thoyyib.

Salah satu perlakuan pra-pemotongan terhadap hewan adalah pengistirahatan agar diperoleh daging yang kualitasnya baik. Panduan pemotongan hewan yang memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) sudah dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia serta pada  SNI 99002:2016 Pemotongan halal pada unggas.

Pada proses pemotongan hewan terdapat 3 tahap penanganan yaitu sebelum/pra penyembelihan, sesaat sebelum penyembelihan dan setelah penyembelihan.

Penanganan pra Penyembelihan

Harus disediakan tempat penampungan  hewan sementara,  pemeriksaan kesehatan oleh yang berwenang (pemeriksaan ante mortem), diistirahatkan serta dipuasakan (tidak diberi makan, hanya air minum saja).

Penanganan sesaat sebelum penyembelihan

 Petugas harus memiliki ketrampilan dalam hal menangkap dan memposisikan hewan pada saat akan disembelih untuk menghindari terjadinya memar, bercak darah dan patah tulang. Pisau yang tajam sudah disiapkan sehingga hewan tidak menunggu lama untuk disembelih. Namun tidak dibolehkan mengasah pisau didekat hewan yang  akan disembelih.
Pisau yang tajam memiliki mata pisau tunggal, lurus dan halus serta tidak bergerigi, berlubang, atau memiliki kerusakan. Panjang pisau minimal harus empat (4) kali lebar leher unggas yang disembelih dan pisau tidak terasa lentur saat digunakan.

Penanganan setelah penyembelihan

  Darah dibiarkan keluar sampai berhenti mengalir, kemudian dilakukan pengerjaan berikutnya, yaitu  scalding (perendaman pada air panas), pencabutan bulu, pengeluaran jeroan, pemeriksaan post mortem (setelah mati) dan pencucian karkas.

kesimpulan perbandingan Penyembelihan Metode Konvensional dan Metode Pemingsanan

Penyembelihan skala besar

  • Metode konvensional butuh banyak tenaga dan memakan waktu lama, sehingga kurang efektif
  • Metode stunning lebih mudah dan butuh sedikit waktu, sehingga lebih efektif

Kehalalan

  • Metode konvensional lebih dekat pada syarat kehalalan daging hewan
  • Metode stunning berpotensi membunuh hewan, sehingga perlu kehati-hatian ekstra agar daging hewan tetap halal

Mas Ely
Ely setiawan asal banyumas, seorang mahasiswa peternakan, pemilik blog elysetiawan.com dan elyjawa.blogspot.com

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter