mengubah Mindset beternak kambing domba

Mindset beternak kambing domba
Mindset adalah sekumpulan asumsi-asumsi yang membentuk pola pikir dan pola tindak kita. Dalam kaitan daging misalnya, asumsiasumsi itu antara lain adalah daging identik dengan daging sapi padahal misalnya daging domba dan kambing juga tidak kalah baiknya.  Kita juga berasumsi bahwa untuk beternak sapi, domba dan kambing yang murah dperlukan lahan gembalaan berupa padang rumput yang luas. Karena asumsi-asumsi inilah kita menyerah pada Australia dan New Zealand untuk kebutuhan daging dan susu kita. Sama dengan ketika berperang, begitu kita berasumsi bahwa musuh lebih kuat maka kita akan defensive atau bahkan menyerah. Maka solusi besar dari masalah besar perdagingan – yang berpengaruh langsung pada kwalitas generasi kini dan nanti ini – harus dimulai dari perubahan besar pada  mindset kita, perubahan asumsi-asumsi di pikiran kita yang kemudian akan membentuk perubahan pada pola tindak kita.

Lantas dari mana memulainya ?, mumpung kita baru mulai perubahan ini – maka bisa dari awal kita arahkan untuk mengikuti petunjukNya agar tidak (lagi) tersesat dalam perjalanan panjang ke depan. Kita mulai dari yakin-se yakin-yakinnya bahwa janjiNya pasti benar, bahwa bila kita berpikir Dia memberi rezeki kita (termasuk daging di dalamnya) minimal sama dengan yang diberikannya pada ratarata penduduk dunia – maka kitapun akan mendapatkannya demikian .  Dari mana lompatan besar itu akan kita peroleh ? dari mana lagi kalau bukan dari Al-Qur’an dan sunnah-sunnah nabiNya ! AlQur’an yang dengannya gunung-pun bisa terbelah (QS 59:21), yang menjadi jawaban atas segala sesuatu (QS 16 :89), yang menjadi petunjuk, penjelasan atas petunjuk dan pembeda (QS 2:183) – pasti sangat bisa menjawab seluruh persoalan daging ini.
 
Perhatikan rangkaian ayat-ayat berikut misalnya :
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan hijauan , zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buahbuahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS 80 : 24-32)
 
“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS 16 : 10-11) Pemahaman dan pendalaman ayat-ayat tersebut akan segera merubah mindset kita. Bahwa lahan-lahan gembalaan terbaik itu bukan padang rumput yang luas seperti yang dimiliki oleh Australia dan New Zealand misalnya.
 
Lahan-lahan gembalaan yang diresepkanNya itu adanya di antara kerindangan tanaman-tanaman lain dari jenis biji-bijian, kurma, anggur, zaitun, segala macam tumbuh-tumbuhan, buah-buahan , rumput-rumputan, dan segala tanaman yang membentuk kebunkebun yang lebat. Negeri mana yang memiliki ini semua ? Utamanya adalah negeri-negeri tropis yang memiliki keaneka ragaman hayati yang sempurna. Negeri mana itu ? salah satu yang terbaiknya tentu adalah negeri ini, Indonesia !. Jadi resep penggembalaan dari Al-Qur’an tersebut di atas justru paling fit bila diterapkan di negeri ini, lebih dari negeri-negeri lain yang selama ini membentuk mindset kita seolah merekalah yang bisa memproduksi daging dan susu yang murah itu.
 
Masalahnya adalah kebun-kebun yang luas dari perkebunan, kehutanan, industry dlsb adalah bukan milik rakyat, dimana rakyat bisa menggembalakan ternak-ternaknya ? Jawabannya ada di hadits berikut : “Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745). Kuncinya ada di syirkah atau kerjasama itu, ketika kita tidak bersyirkah seperti sekarang – dengan potensi ladang gembalaan yang paling baik-pun kita tetap tidak bisa makan daging secara cukup. Kita bisa bersyirkah dengan para pemilik perkebunan, perhutani, pengelola jalan tol dan bahkan pengelola-pengelola lapangan golf untuk bisa menggembala di lahan gembalaan yang sangat luas.
 
Orang-orang yang pesimis pasti akan melihat masalah demi masalah. Menggembala di lahan perkebunan tidak akan diijinkan pemiliknya, juga di perhutani. Menggembala di pinggir jalan tol akan meningkatkan kerawanan pengguna tol. Menggembala di lapangan golf akan merusak keindahan lapangan golf dan segudang permasalahan lainnya.Tentu ini kembali ke hadits qudsi tersebut di atas, bila kita beranggapan tidak bisa karena penuh masalah – maka kita memang tidak akan bisa karena kita tidak beranjak untuk berusaha mengatasi masalah-masalah yang ada.Sebaliknya bila kita optimis bisa, kita menyadari ada tantangantantangan besar di depan – maka kita akan mulai berusaha memecahkan masalahnya satu demi satu. Golongan kedua inilah yang ingin kami ajak rame-rame untuk mulai berbuat mengatasi masalah yang nampaknya sepele - masalah daging – tetapi bisa menjadi penghancur kwalitas generasi ini.
 
Kita ubah dahulu mindset kita untuk bisa, maka insyaAllah kitapun akan bisa. InsyaAllah !

REFRENSI
BUKU WATANA (Wana Tani Ternak) : THE MINDSET

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "mengubah Mindset beternak kambing domba"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel