link expr:href='data:blog.url' hreflang='x-default' rel='alternate'/>

pentingnya ketepatan diagnosis penyakit ternak

Diagnosa penyakit hewan (termasuk ayam) merupakan tugas, tanggung jawab, dan wewenang seorang tenaga lapangan atau dokter hewan.
tetapi sering kali tenaga lapangan atau dokter hewan masih kurang menjangkau peternak sehingga peternak harus bisa menyiasatinya.

peternak, dapat pula melakukan langkah-langkah “seperti mendiagnosa” untuk mengumpulkan seluruh informasi mengenai kejadian kasus penyakit.
 Mulai dari anamnesa, pengamatan terhadap gejala klinis, dan pemeriksaan bedah bangkai.
Saat pengambilan kesimpulan akan jenis penyakit yang menginfeksi ayam dan tindakan penanganannya sulit, maka informasi tersebut dapat diteruskan kepada tenaga lapangan di daerah masing-masing atau tim konsultasi teknis peternakan yang diketahui.
Jika sampai tahap bedah bangkai belum bisa teridentifikasi serangan penyakitnya, maka bisa juga dilakukan uji laboratorium untuk mendukung diagnosa, misalnya uji serologi, biologi molekuler, mikrobiologi, bahkan pemeriksaan pakan dan bahan baku pakan melalui bantuan tim tenaga lapangan.

ketepatan diagnosa penyakit merupakan salah satu kunci penting dalam penanganan dan pengendalian penyakit.
 Selain hal tersebut, hal lain yang perlu diperhatikan yakni ketepatan penentuan obat, ketepatan dosis dan ketepatan manajemen pemeliharaan.

Diagnosa Penyakit

Diagnosa penyakit adalah upaya untuk menegakkan atau mengetahui jenis penyakit yang menyerang atau faktor penyebab lainnya di suatu peternakan. Ketepatan diagnosa akan mempengaruhi keberhasilan pengobatan/penanganan penyakit.
Namun keberhasilan pengobatan juga dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit. Jika kondisi ayam sudah parah, maka tingkat kesembuhan atau prognosanya (kemungkinan tingkat kesembuhan) juga kecil.

Pada dasarnya proses mendiagnosis penyakit dianalogikan seperti halnya menyusun puzzle. Yakni dengan mengumpulkan berbagai data yang mengarah pada penarikan kesimpulan tentang penyakit yang menyerang peternakan. Semakin banyak data yang diperoleh maka penarikan kesimpulan akan semakin mudah. Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam mendiagnosa penyakit antara lain anamnesa (pengumpulan data pendukung dan sejarah penyakit), pengamatan gejala klinis (gejala yang nampak dari luar saat ayam masih hidup) yang muncul, pemeriksaan bedah bangkai (perubahan organ saat ayam sudah mati) serta pengujian laboratorium.
  • Anamnesa
Anamnesa yaitu keluhan yang dirasakan peternak berdasarkan pengamatan, peninjauan maupun pengumpulan data. Tujuannya untuk mendapatkan informasi yang digunakan sebagai panduan awal. Anamnesa dapat dilakukan dengan mempelajari catatan pemeliharaan atau data recording maupun informasi dari petugas kandang.
 Data-data yang perlu dikumpulkan meliputi:
  • Jenis, strain, dan umur ayam.
  • Jumlah populasi ayam dalam satu kelompok umur, serta jumlah seluruh populasi dalam satu lokasi peternakan. Kemudian kita harus tahu juga apakah gejala sakit hanya pada kelompok umur/kandang tertentu atau terjadi juga pada kelompok umur/kandang yang lain.
  • Program vaksinasi yang diterapkan dan bagaimana aplikasi yang diberikan.
  • Program pemberian vitamin atau antibiotik apa saja yang sudah dilakukan
  • Bagaimana pelaksanaan biosekuriti di peternakan
  • Bagaimana sejarah kasus penyakit di peternakan tersebut
  • Berapa persentase produksi telur, berat telur, kualitas telur, dan kerabang telur, serta apakah terjadi abnormalitas pada bentuk telur
  • Data mengenai jumlah konsumsi pakan, berat badan, keseragaman, dan FCR
  • Gambaran mengenai angka morbiditas (tingkat kesakitan) dan mortalitas (tingkat kematian)
informasi pendahuluan di atas perlu kita ketahui untuk menganalisa faktor-faktor pendukung kejadian penyakit.
contoh mengenai jenis dan umur ayam dapat menunjukkan penyakit apa saja yang mungkin dapat menyerang ayam. Karena kita tahu beberapa penyakit rawan menyerang pada umur-umur tertentu. Gumboro misalnya, lebih sering menyerang pada semua jenis ayam pada umur muda kurang dari 9 minggu. Organ target yang diserang pada penyakit Gumboro adalah bursa Fabricius. Bursa Fabricius merupakan jaringan limfoid (organ kekebalan) yang hanya ada pada ayam muda saja. Pada ayam dewasa umur kurang lebih 8 minggu akan mulai mengecil dan rudimenter/benar-benar mengecil pada umur 16 minggu.
Data mengenai besarnya angka morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) juga sangat penting kita dapatkan. Hal ini untuk mengetahui derajat keparahan suatu penyakit dan mengetahui kemungkinan penyebab penyakit.

Pengamatan Gejala klinis
Pengamatan langsung terhadap kondisi ayam di kandang perlu dilakukan. Gejala klinis merupakan gejala/perubahan-perubahan yang ditunjukkan tubuh ayam dan dapat diamati dari luar. Beberapa penyakit mempunyai gejala klinis yang menciri, tetapi banyak penyakit yang mempunyai gejala klinis yang mirip. Pemahaman terhadap berbagai macam penyakit beserta gejala klinisnya sangat diperlukan untuk membantu proses diagnosa penyakit.
 Pengamatan gejala klinis misalnya terhadap beberapa hal berikut ini:
Penampilan ayam (pencapaian bobot ayam, kondisi ayam lemah, mengantuk, bulu kusam/berdiri, jengger pucat/kebiruan/terdapat keropeng, muka pucat/bengkak, kepala bengkak, kaki kemerahan/bengkak, posisi berdiri normal/pincang/lumpuh, perut membesar, dan sebagainya)
  • Gangguan pernapasan (suara ngorok, pilek, bersin, adanya leleran hidung, keluarnya darah segar dari mulut, kesulitan bernapas, dan lain-lain)
    contoh pemengamatan pernafasan pada ayam
    contoh pemengamatan pernafasan
  • Gangguan pencernaan (mulut terdapat keropeng/lesi, diare basah, feses berwarna hijau/putih/berdarah, feses masih terdiri dari butiran-butiran jagung, dalam feses ditemukan potongan tubuh cacing pita)
  • Gangguan saraf (tortikolis/leher terpuntir, lumpuh kaki atau sayap, tremor/gemetaran)
  • Gangguan reproduksi (penurunan kuantitas dan kualitas telur)
    pengamatan kondisi telur unggas
    pengamatan kondisi telur
Selain pengamatan pada ayam, di sini kita juga perlu mengamati kondisi lingkungan kandang dan sekitar kandang. Karena gangguan kesehatan ayam tidak hanya disebabkan oleh infeksi penyakit namun dapat pula disebabkan karena faktor manajemen atau lingkungan. Misalnya kondisi litter pada kandang postal, pengaturan buka tutup tirai kandang, kelancaran air minum, sebaran tempat pakan dan minum, dan lain sebagainya.



Pemeriksaan bedah bangkai
 Untuk melakukan pemeriksaan bedah bangkai, lakukan pada ayam yang baru saja mati atau dimatikan kurang dari 2 jam. Teknik untuk mematikan/membunuh ayam ada beberapa cara seperti menyembelih, merusak otak, emboli (jantung, vena sayap, otak) dan dekapitasi/memutuskan tulang leher pertama dengan tulang kepala. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko sebagai sumber penularan.Kemudian lakukan pengamatan terhadap perubahan pada organ, baik warna, ukuran, bentuk, kekenyalan ataupun perubahan lainya seperti peradangan.

Jika sudah selesai, bangkai ayam dan limbah perlu dilakukan penanganan khusus. Singkirkan segera bangkai dari dalam kandang. Buang dengan cara yang aman, dibakar pada insenator (tempat khusus untuk pembakaran)/dikubur. Siapkan lubang galian dengan kedalaman min 1,5 meter, sesuai jumlah ayam yang dikubur. Taburi alas kuburan dengan kapur aktif. Masukkan bangkai ayam ke dalam kuburan kemudian semprot dengan desinfektan. Tutup dengan jerami kering kemudian dibakari. Tutup lubang kuburan dan taburi kapur aktif. Untuk melakukan bedah bangkai, pilih lokasi yang agak jauh dari kandang agar penyakit tersebut tidak menular ke ayam yang masih sehat. Selain itu pilih lokasi yang teduh dan anginnya tidak terlalu kencang sehingga tingkat pencemaran bibit penyakit tidak terlalu tinggi.
 Organ-organ tubuh yang perlu diamati antara lain:
  • Otot dan kulit
    contoh pemeriksaan kulit unggas
    pemeriksaan kulit unggas

    contoh pemeriksaan otot ayam/unggas
    pemeriksaan otot ayam
     
  • Organ pernapasan seperti rongga hidung dan sinus, kantung udara, laring, trakea, bronkus, dan paru-paru 
    gambar pemeriksaan kantng udara ayam/unggas
    pemeriksaan kantng udara ayam/unggas

    pemeriksaan laring, trakea unggas/ayam
    pemeriksaan laring, trakea

    pemeriksaan paru-paru unggas atau ayam
    pemeriksaan paru-paru

    pemeriksaan sinus hidung unggas/ayam
    pemeriksaan sinus hidung unggas
  • Organ pencernaan seperti mulut, esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus/gizzard/ampela, usus, hati, dan pankreas
    pemeriksaan hati unggas/ayam
    pemeriksaan hati ayam

    pemeriksaan proventrikulus dan ventrikulus unggas/ayam
    pemeriksaan proventrikulus dan ventrikulus unggas

    pemeriksaan usus unggas atau ayam
    pemeriksaan usus unggas
  • Organ sirkulasi darah, misalnya jantung
    pemeriksaan jantung unggas atau ayam
    pemeriksaan jantung unggas
  • Organ limphoid (kekebalan) seperti bursa Fabricius, limpa, thymus, payer pathces, dan lain-lain
    contoh pemeriksaan organ kekebalan unggas
    pemeriksaan organ kekebalan unggas
  • Organ reproduksi seperti ovarium dan oviduk




  • Organ saraf seperti otak dan saraf di dalam otot paha/nervus ischiadicus
  • Organ urinaria, misalnya ginjal
    pemeriksaan ginja unggas
    pemeriksaan ginja
  • Organ lainnya seperti rongga perut, lemak perut
    pemeriksaan lemak perut pada unggas
    pemeriksaan lemak perut unggas
Uji Laboratorium
  Setelah dilakukan anamnesa, pemeriksaan gejala klinis dan perubahan patologi anatomi, terkadang kita masih ragu untuk menentukan diagnosa penyakit. Hal ini karena ada beberapa penyakit yang memiliki gejala klinis dan perubahan organ yang hampir mirip. Sebagai contoh penyakit ND dan AI. Dengan demikian, untuk membantu meneguhkan penyakit perlu dilakukan uji laboratorium. Uji laboratorium dirasakan manfaatnya oleh para peternak seperti :
  •  Uji serologi
Uji serologi dapat membantu peneguhan diagnosa dari gambaran titer antibodi di dalam tubuh ayam.
  • Uji biologi molekuler
    Uji biologi molekuler PCR (Polymerase Chain Reaction)
    Uji biologi molekuler
  Untuk mendeteksi jenis mikroorganisme secara detail. Sampel yang diperlukan yakni sampel organ ayam. Contoh metodenya yakni PCR (Polymerase Chain Reaction) dan DNA Sequencing (analisis genetik).
  • Uji mikrobiologi
Uji mikrobiologi dilakukan untuk mengidentifikasi jenis bakteri maupun jamur tertentu yang diduga menginfeksi ternak.
  •  Uji parasitologi
 Pemeriksaan feses untuk mengidentifikasi jenis cacing dan ookista (penyebab koksidiosis) dan pemeriksaan parasit (malaria atau malaria like) di dalam darah unggas.
Selain uji-uji peneguhan diagnosa di atas, ada pula uji lain untuk mendukung arahan diagnosa, seperti:
  • Uji kualitas ransum
Uji kualitas ransum diperlukan untuk mengetahui kualitas ransum yang diberikan ke ternak maupun uji adanya racun jamur (mikotoksin) pada ransum.
  • Uji kualitas air
Air dapat menjadi media penularan penyakit seperti colibacillosis, salmonelllosis, dan lain-lain. Selain itu, air juga media penting untuk pelarutan obat. Maka sebaiknya melakukan uji kualitas air minimal setiap pergantian musim (2 kali dalam setahun).
  • Uji mikrobiologi (uji sensitivitas)
Untuk mengetahui tingkat kepekaan/sensitivitas bakteri terhadap antibiotik atau sensitivitas jamur terhadap antijamur.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "pentingnya ketepatan diagnosis penyakit ternak"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel