link expr:href='data:blog.url' hreflang='x-default' rel='alternate'/>

Mengapa orang Indonesia terbiasa mengumpat dengan kata “anjing!”

Akhir akhir ini entah kenapa termasuk saya sendiri mudah sekali mengeluarkan kata kata menghina, berbicara kasar, menjelek-jelekan, berkata tidak baik, mengumbat.  Baik itu disosmed maupun di kehidupan sehari hari sering sekali kita jumpai. kata kata yang paling sering diucapkan dalam mengumpat adalah “anjing!”

Mengumpat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring berarti mengeluarkan umpat(an); memburuk-burukkan orang; mengeluarkan kata-kata keji (kotor) karena marah (jengkel, kecewa, dsb); mencerca; mencela keras; mengutuk orang karena merasa diperlakukan kurang baik; memaki-maki.Berikut saya jelaskan sebab kata anjing dipakai dalam mengumpat.

Pengaruh Arab

kata anjing menjadi makian karena pengaruh Arab. Orang Arab suka menggunakan kata ini untuk memaki orang, mungkin karena ini dianggap hewan najis dalam agama Islam,
orang arab Biasanya mereka berseru ya kalb! Kata anjing dalam bahasa Arab adalah kalb (كلب).
contoh ilustrasi kata makian anjing
contoh kata makian anjing
sumber Tintin: Cerutu Sang Firaun (edisi Gramedia)


selain hewan anjing, hewan Kucing pun kadang-kadang dipakai sebagai semacam makian seperti "tahi kucing". Ada juga istilah "malu-malu kucing" yang artinya sebenarnya mau, tetapi pura-pura tidak. Selain itu ada juga istilah "main kucing-kucingan", yang artinya bersembunyi dari seseorang yang mengejar. untuk beberapa golongan juga bisa dianggap sebagai kata makian.

Pengaruh penjajahan belanda

Menurut Hendri F. Esnaeni, anjing kerap dianggap sebagai binatang piaraan yang patuh, setia, dan disayang. Kebiasaan memelihara anjing sudah berlangsung lama, termasuk di Nusantara. Di Aceh, Meurah Silu, pendiri Kerajaan Samudera Pasai, memiliki anjing kesayangan bernama Pasai. Pasai kemudian dipakai untuk melengkapi nama kerajaan, yang semula hanya Samudera menjadi Samudera Pasai.



Anjing sebagai umpatan bermula ketika Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) menyamakan Raja Mataram Sultan Agung dengan "seekor anjing yang telah mengotori Masjid Jepara". Begitu pula terhadap kaum pribumi, orang Belanda menyamakannya dengan anjing. Di tempat-tempat keramaian yang hanya untuk kalangan Belanda, Eropa, dan Jepang, biasa tertulis Verboden voor Inlanders en Honden (Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk). Para politikus dan rakyat Belanda pun mengecap Soekarno sebagai "anjing piaraan Jepang". Kaum pergerakan mendamprat orang-orang yang bekerja sama dengan Belanda sebagai anjing Belanda.
makian pada masa penjajahan belanda
Contoh makian pada masa penjajahan belanda

Anjing sebagai umpatan mengalami perluasan pemakaian. Di beberapa tembok rumah-rumah kosong, biasanya ada tulisan Dilarang kencing di sini kecuali anjing. Di tanah-tanah kosong ada plang bertulisan Dilarang buang sampah di sini kecuali anjing.

catatan
Hendaklah kita pandai-pandai menjaga lidah, termasuk tidak mengumpat. Jangan sampai orang berprasangka buruk karena lidah kita ringan mengumpat. Jangankan mengumpat sesama, mengumpat nyamuk saja Rasulullah melarang.
Dalam hadis riwayat Ahmad, Al Bukhari dalam "Al-Adab Al-Mufrad", Al-Bazzar, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi dalam "Su'bul Iman"; dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah mendengar seorang lelaki mengumpat nyamuk. Lalu beliau bersabda, "Jangan kauumpat nyamuk (itu). Karena sesungguhnya ia membangunkan seorang nabi dari para nabi untuk melakukan salat fajar!"

sekian postingan saya kali ini semoga membawa manfaat bagi kita semuanya amin.. :)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengapa orang Indonesia terbiasa mengumpat dengan kata “anjing!”"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel