link expr:href='data:blog.url' hreflang='x-default' rel='alternate'/>

Kenapa kandang dan ayam saya dibakar, pak?

 Pertanyaan ini dilontarkan oleh salah satu peserta penanggulangan penyakit “zoonosis” kemarin. Pak Mulyono, pemotong ayam yang juga memelihara ayam kampung dirumahnya,” setiap kali ada berita Flu Burung kandang dan ayam di tempat saya dibakar, padahal yang memelihara ayam kampung cuma orang kecil pak – untuk tabungan lebaran. Banyak orang nggak punya (uang) yang berharap bisa makan daging ayam waktu lebaran karena mereka jarang makan daging (ayam)”.
pemusnaan ayam dengan cara dibakar

Saya membayangkan berapa banyak peneliti, penggagas penyakit “zoonosis”, pakar penyakit influenza, pakar penyakit hewan, maupun para penggiat organisasi kesehatan jagat raya yang pernah makan ayam. Mungkin mereka terlalu sering makan daging ayam dari menu yang disediakan di hotel-hotel mewah pada setiap workshop bertema “Flu Burung” bahkan mungkin sampai pada titik jenuh makan daging ayam karena terlalu banyaknya rapat dan workshop, mulai dari koordinasi, pengendalian, pemberantasan hingga pemetaan penyakit Flu Burung.

Para pemelihara ayam yang memelihara ayam kampung tidak bisa makan daging ayam, sementara para pakar jenius menyarankan ayam-ayam kampung plasma nutfah Indonesia dibakar sambil kekenyangan makan daging ayam saat rapat “ilmiah”. Dua buah kejadian paradox yang merupakan kenyataan sehari-hari di negara kita tercinta. Para pemelihara ayam kampung (bukan peternak, karena sektor 1&2 tidak pernah diurusi pemerintah) dari golongan menengah ke bawah yang memelihara ayam sebagai cadangan makanan harus merelakan ayam tabungannya dibakar, karena pendapat “ilmiah” para pakar influenza bahwa wabah Flu Burung bisa menghabisi semua manusia sehingga ayam di lokasi wabah harus dimusnahkan. Sebuah pesta pora “ilmiah” di atas penderitaan rakyat kecil.

Bagi para pakar influenza ini teori “kemungkinan mutasi H5N1” merupakan gagasan “ilmiah” yang cemerlang - yang mampu mengorbitkan siapapun asal bisa menjalankan uji PCR (apalagi sequencing) menjadi bintang selebriti dunia sains di Indonesia. Sebuah gagasan berdasarkan teori probabilitas statistika berwujud phylogenetic tree (yang sebenarnya bisa diatur markernya sesuka hati- serta menghasilkan clade sesuka hati) dan dinamika (kemungkinan) mutasi virus yang tidak akan berakhir (dengan biaya 200-500 juta rupiah /tahun). Sebuah gagasan “ilmiah” yang mengabaikan fakta bahwa sampai detik ini tidak ada pekerja kandang /technical service obat / dokter hewan /penjual ayam /petugas surveillance Flu Burung / peneliti/ pakar influenza dan bio terorisme yang meninggal karena terlalu banyak berinteraksi dengan virus H5N1 pada saat wabah terjadi. Bahkan tidak pernah ada penjelasan ilmiah yang dilontarkan oleh para pakar influenza mengenai anomali kenapa semua manusia di Indonesia tidak mati karena terpapar virus H5N1 sedangkan saat ini tidak ada satupun wilayah di Indonesia yang bebas Flu Burung.

Saya mencoba menjelaskan kepada Pak Mulyono bahwa sebenarnya virus H5N1, H1N1, H7N1 dan virus influenza apapun memiliki selubung lipoprotein yang dapat mati dalam waktu 3 menit jika terkena larutan pemutih pakaian yang diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:9 (tanpa perlu menyebut zat aktif sodium hipoklorit agar kelihatan seolah-olah ilmiah). Sehingga jika ada wabah ayam yang sudah terlanjur mati ya bisa dibakar, ayam yg hidup diberi terapi suportif untuk meningkatkan sistem imun dengan diberi vitamin dan gula merah, sementara kandang ayam dapat dibersihkan dengan sabun serta disemprot dengan larutan 10% pemutih pakaian.

 Jika kebetulan masyarakat sekitar memiliki uang bisa patungan untuk membeli vaksin Flu Burung untuk disuntikkan ke ayam kampung mereka sehingga jika ada wabah ayam kampung mereka bisa terselamatkan. Saya juga mencoba menjelaskan mengenai fakta bahwa sejak 2003 belum ada satupun dari para pemotong ayam dan pemelihara ayam yang meninggal sedangkan setiap hari mereka terpapar virus H5N1.

Pak Mulyono kelihatan gembira mendengar penjelasan saya dan kemudian melontarkan pertanyaan yang saya takuti. “Kalau penyelesaian nya gampang kayak gitu terus kenapa kandang ayam dan ayam saya dibakar pak ?”. Saya hanya tersenyum kecut, saya tidak mungkin menerangkan bahwa gagasan desinfeksi sodium hipoklorit sama sekali tidak digubris saat rapat koordinasi wabah Flu Burung, atau saat hasil penelitian sensitifitas virus H5N1 terhadap bermacam-macam desinfektan malah dianggap sebagai ancaman.
 Saya hanya berharap suatu saat bisa mendapat kesempatan membantu Pak Mulyono jika ada wabah flu Burung di sekitar rumahnya sehingga sisa ayam kampung dan kandang ayam miliknya tidak perlu dibakar (lagi) hanya sekedar untuk melegalkan ilusi tanpa fakta bahwa Flu Burung menular ke manusia.

sumber https://www.facebook.com/notes/moh-indro-cahyono/kenapa-kandang-dan-ayam-saya-dibakar-pak/10154181040430625/

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kenapa kandang dan ayam saya dibakar, pak?"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel