link expr:href='data:blog.url' hreflang='x-default' rel='alternate'/>

PEDOMAN LENGKAP TEKNIS BUDIDAYA TERNAK DOMBA KAMBING

A.  Lokasi 
Lokasi   untuk   peternakan   domba   sebaiknya   berada   di   areal   yang cukup luas, udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak dan sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimal 10 meter) serta relatif dekat dari pusat pemasaran ternak

B.   Penyiapan Sarana dan Prasarana

a.   Kandang
- Kandang harus dibuat kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama.
- Bahan dapat menggunakan bahan yang mudah diperoleh seperti kayu dan bambu.
- Ukuran disesuaikan dengan jumlah ternak.
-  Kandang  harus  mudah  dibersihkan,  memperoleh  sinar  matahari  pagi,  memiliki  ventilasi  yang  cukup  dan  terletak  lebih  tinggi  dari  lingkungan sekitarnya untuk menghindarkan dari resiko banjir.
-   Atap  kandang  diusahakan  dari  bahan  yang  ringan  dan  memiliki  daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia atau genting tanah.
-  Buat  lubang  penampungan  kotoran  di  bagian  bawah  kandang 
sedalam 40 cm
- Buat saluran pembuangan air di sekitar kandang agar tidak becek. Kandang dapat dibagi menjadi beberapa bagian yang disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing bagian kandang, beberapa bagian.



kandang yang dapat diterapkan dalam pembuatan kandang domba
diantaranya, yaitu:
a)   Kandang  induk/utama,  tempat  domba  digemukkan.  Satu  ekor  domba membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.
b)   Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya  selama  3  bulan.  Seekor  induk  domba  memerlukan  luas  1,5 x 1 m dan anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m.
c)    Kandang  pejantan,  tempat  domba  jantan  yang  akan  digunakan  sebagai pemacak seluas 2 x1,5 m/pemancak.
Di  dalam  kandang  domba  sebaiknya  terdapat  tempat  pakan,  tempat  minum,  gudang  pakan,  lapangan  terbuka  untuk  tempat  umbaran (tempat domba diangon) dan tempat kotoran/kompos.


b.    Persiapan    Bibit
Domba  yang  akan  digunakan  sebagai  bibit  haruslah  domba  yang  sehat  dan  tidak  terserang oleh  penyakit,  berasal  dari  bangsa  domba   yang   memiliki   kinerja   reproduksi   yang   baik   diantaranya   persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan  persentase karkas  yang  baik.  Dengan  demikian  keberhasilan  usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.

c.    Seleksi    induk

1.    Pilih  induk  yang  berbadan  besar  dan  panjang,  seimbang,  serta  bagian-bagian anggota badannya yang berpasangan simetris
2.   Pilih induk yang sehat dengan ciri-ciri sebagai berikut:
•   Mata   bersinar/bening
•   Cermin hidung lembab/tidak kering
•   Selaput mata tidak pucat
•   Bulu berkilat/tidak kusam dan kaku
•   Badan kekar, tidak terlalu gemuk

d.    Seleksi    Pejantan
1.    Pilih  jantan  yang  berbadan  besar  dan  panjang  seimbang,  serta  bagian-bagian anggota badannya simetris
2.   Pilih Pejantan yang sehat dengan cirri-ciri sebagai berikut:
•   Mata   bersinar/bening
•   Cermin hidung lembab/tidak kering
•   Selaput mata tidak pucat
•   Bulu berkilat/tidak kusam dan kaku
•   Badan kekar, tidak terlalu gemuk
•   Bentuk buah zakar normal (sepasang berukuran sama)
•   Umur minimal 1,5 tahun



 Pemeliharaan
a.   Pakan   Hijauan

Pakan  yang  diberikan  kepada  ternak  merupakan  kombinasi  dari  berbagai  jenis  bahan  pakan ternak  yang  terdiri  dari  bahan  kering  dan  air.  Bahan  pakan  ini  harus  diberikan  pada  ternak  sesuai  dengan  kebutuhan  ternak  untuk  memenuhi  kebutuhan  hidup  pokok  dan 
produksi.
  Pemberian  bahan  pakan  yang  sesuai  dengan  kebutuhan  ternak  maka  proses pertumbuhan,  reproduksi  dan  produksi  ternak  akan berlangsung dengan baik, oleh karena itu pakan yang diberikan harus terdiri dari zat-zat pakan yang dibutuhkan oleh ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air.

Pada  umumnya pakan ternak sebenarnya hanya terdiri dari tiga jenis, yaitu pakan kasar, pakan penguat dan pakan pengganti. Pakan kasar merupakan  bahan  pakan  berkadar  serat  kasar  tinggi,  bahan  ini  berupa  pakan  hijauan  yang  terdiri  dari  rumput  dan  dedaunan.  Pakan penguat merupakan bahan  pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti konsentrat, ampas tahu dan bubur singkong, sementara  pakan  pengganti  merupakan pakan  hijauan  yang  sudah  melalui proses fermentasi ataupun proses lainnya.

Pakan  Domba  sebagian  besar  terdiri  dari  hijauan,  yaitu  rumput  dan  daun  daunan  tertentu  (leguminosa),  seekor  domba  dewasa  membutuhkan  kira-kira  6  kg  hijauan  segar  sehari  yang  diberikan  2  kali, yaitu pagi dan sore hari. Hijauan dapat diberikan dalam  keadaan segar  (asfed)  dan  hijauan  yang  telah  melalui  proses  pengawetan,  fermentasi ataupun pengeringan. Hijauan segar adalah hijauan yang belum melalui proses pengawetan, fermentasi ataupun  pengeringan, pada  umumnya  hijauan  segar  memiliki  kadar  air    70%  sedangkan  hijauan  yang  telah  melaui  proses  dapat  berupa  hijauan  fermentasi,  hay ataupun silase (Siregar, 1995).

 Pemberian  pakan  hijauan  diberikan  sesuai  kebutuhan  ternak  yaitu 3 – 4% bahan kering dari bobot hidup. Hijauan yang baik untuk pakan adalah hijauan yang belum terlalu tua dan belum menghasilkan bunga  karena  hijauan  yang  masih  muda  memiliki  kandungan  PK  (protein  kasar)  yang    lebih  tinggi,  namun  perlu  diperhatikan  pula  bahwa  hijauan  yang  masih  terlalu    muda pun  kurang  baik  untuk  diberikan sebagai pakan ternak karena memiliki kadar air yang cukup tinggi,  berdasarkan  kondisi  ini  perlu  diperhatikan  umur  panen  dari  hijauan  yang  akan  digunakan  sebagai  pakan  ternak.

Umur  panen  yang  dianjurkan  pada  hijauan  yang  akan  digunakan  sebagai  pakan  ternak  adalah  pada  saat  menjelang  berbunga.  Demikian  pula  pada  hijauan  yang  dipanen  pada  musim  hujan  sebaiknya  dilayukan  atau  dikeringkan   terlebih   dahulu   sebelum   digunakan   sebagai   pakan   domba,  hal  ini  perlu  dilakukan  untuk  mengurangi  kadar  air  yang  terkandung pada hijauan tersebut.

Menurut Murtidjo (1993), hijauan pakan merupakan pakan utama bagi  ternak  ruminansia  dan  berfungsi  sebagai  sumber  gizi,  yaitu  protein,  sumber  tenaga,  vitamin  dan  mineral.  Ternak  domba  akan  memperoleh  semua  gizi  yang  dibutuhkan  dari  hijauan  bila  pakan  hijauan  yang  diberikan  merupakan  campuran  dari  daun-daunan  (leguminosa) dan rumput-rumputan, dengan demikian, zat gizi yang terdapat  pada  masing-masing  jenis  hijauan  yang  diberikan  tersebut  akan  saling  melengkapi  dan  menjamin  ketersediaan  gizi  yang  lebih  baik. Komposisi antara rumput dengan leguminosa yang dianjurkan pada berbagai fase fisiologis ternak domba dapat dilihat pada Tabel 1.




Pemberian Pakan Konsentrat
Konsentrat adalah bahan pakan yang digunakan bersama bahan pakan lain terutama hijauan untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan yang diberikan kepada ternak dan dimaksudkan untuk   disatukan   atau   dicampur   sebagai   suplemen   atau   bahan   pelengkap.   Konsentrat   untuk   ternak   domba   umumnya   disebut   sebagai   pakan   penguat   atau   bahan   baku   pakan   yang   memiliki   kandungan  serat  kasar  kurang  dari  18%  dan  mudah  dicerna,  pakan 
penguat  dapat  berupa  dedak  jagung,  ampas  tahu,  bungkil  kelapa,  bungkil kacang tanah, atau campuran pakan tersebut.

Untuk   domba   jantan   yang   sedang   dalam   periode   memacek   sebaiknya ditambah pakan penguat (konsentrat)  ± 1 kg. Konsentrat yang terdiri dari campuran 1 bagian dedak dengan 1 bagian bungkil kelapa   ditambah   garam   secukupnya   adalah   cukup   baik   sebagai   pakan penguat, pakan penguat tersebut diberikan sehari sekali dalam bentuk bubur yang kental.
Tabel 2. Kebutuhan Nutrisi Ternak Domba



Reproduksi dan Perkawinan

Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu.
a)   Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini  dicapai  pada  saat  domba  berumur  6-8  bulan,  baik pada  yang  jantan maupun yang betina.
b)   Dewasa  tubuh,  yaitu  masa  domba  jantan  dan  betina  siap  untuk  dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan  12  bulan  pada  jantan.  Perkawinan  akan  berhasil  apabila  domba betina dalam keadaan birahi.
Tanda-tanda birahi adalah: 
-   Gelisah,   mengembik-ngembik
-   Nafsu makannya berkurang
-   Mendekati   pejantan
-   Menaiki   pejantan  
-   Alat  kelaminnya  mengeluarkan  lendir,  sedikit  bengkak  dan  kemerahan
-   Waktu mengawinkan: bila terlihat tanda birahi pada waktu pagi hari,  maka  waktu  mengawikan yang  tepat  adalah  siang  hari  sampai dengan sore hari, atau antara 6 sampai dengan 10 jam setelah tanda birahi mulai muncul


-   Siklus  birahi  adalah  antara  17  hingga  21  hari.  Bila  domba  betina  sudah  dikawinkan,  17  hari  kemudian  perlu  dicek.  Bila  tanda  birahi  muncul  lagi,  maka  domba  betina  tersebut  harus  dikawinkan lagi
-   Jangan mengawinkan domba dengan saudara sedarahnya atau keturunannya.

Proses Kelahiran
Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Induk bunting  diberi  makanan  yang  baik  dan  teratur,  ruang  gerak  yang  lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. Menjelang kelahiran anak domba,  kandang  harus  bersih  dan  diberi  alas  yang  kering.  Bahan  untuk  alas  kandang  dapat  berupa  karung  goni/jerami  kering.  Obat  yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar. Induk  domba  yang  akan  melahirkan  dapat  diketahui  melalui  perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
a.   Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
b.   Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
c.    Alat   kelamin   membengkak,   berwarna   kemerah-merahan   dan   lembab.
d.   Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
e.   Sering   kencing.

Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban  pecah,  anak  domba  belum  lahir,  kelahiran  perlu  dibantu.  Anak domba yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering  agar  dapat  bernafas.  Biasanya  induk  domba  akan  menjilati  anaknya hingga kering dan bersih

 Kesehatan Ternak dan Lingkungannya

-   Kandang dibersihkan, bila terlihat kotor
-    Domba dimandikan minimal seminggu sekali, memakai sabun, badannya digosok  dengan  serai  wangi  atau  sikat.  Setelah  dimandikan  domba  dijemur sampai bulunya kering
-   Cukur bulunya bila sudah kelihatan panjang
-    Periksa  kukunya,  bersihkan  bila  kotor,  dan  potong  kukunya  bila  sudah  terlalu panjang

 Ciri-ciri Ternak Domba yang Sehat
-      Makan  atau  mengunyah  rumput,  hewan  berdiri  atau  berbaring  dengan   kelompoknya,   ketika   dihampiri   hewan   memandang   dengan tajam biasanya langsung berdiri jika sedang berbaring.
- Berjalan teratur diatas keempat kakinya dan melihat kearah mana dia pergi.
- Pernafasan tenang dan teratur, tidak batuk.
- Hewan tidak kurus, tidak terlihat penonjolan tulang rusuk, tulang punggung,   tulang   pinggul   dan   legok   lapar,   otot-otot   pantat   berisi.
- Kulit mulus dan tidak ada luka.
- Pemeriksaan kepala :
• Hewan dapat melihat, mata jernih dan terang.
• Selaput lendir mata basah dan berwarna merah muda.
• Tidak ada kotoran atau eksudat dari mata, hidung atau mulut, tidak ada pembengkakan.
- Pemeriksaan mulut :
• Tidak ada kotoran atau eksudat.
• Tidak ada luka atau borok di mulut.
- Hewan tidak kekurangan cairan, ditandai dengan kulit yang elastis dan lemas, jika dicubit kulit terangkat ke atas dan jika dilepaskan kulit kembali dengan cepat.
- Tidak  ada  tanda-tanda  diare  :  anus  bersih,  kering  dan  tertutup,  feses normal (tidak keras, tidak lunak, tidak encer).

Ciri-ciri Ternak Domba yang Sakit
-     Tidak    makan,    lesu,    terbaring    atau    berdiri,    terpisah    dari    kelompoknya.
-      Tidak  memandang,  resah  atau  gemetar,  bereaksi  dengan  hebat  dan bersuara.
- Pernafasan terburu-buru, cepat atau tidak teratur.
- Tidak berjalan atau pincang.
- Menggerakkan kepala secara tidak normal, kesatu sisi atau ke atas. Kepala terkulai, berjalan ditempat.
- Hewan kurus, terlihat penonjolan tulang rusuk, tulang punggung, tulang pinggul atau tulang lainnya, legok lapar terlihat jelas.
- Pemeriksaan kepala :
• Ada kotoran atau eksudat berair, bernanah atau berdarah dari mata, hidung atau mulut, ada pembengkakan dan rasa nyeri.
• Mata buram, mata merah, mata biru.
• Bottle jaw (pengumpulan cairan di bawah kulit rahang bawah) akibat kekurangan protein atau cacing parasit.
- Pemeriksaan mulut :
•  Ada   kotoran   atau   keluaran   (ludah,   darah,   makanan)   dari   mulut.
• Ada luka atau borok di mulut.
•  Selaput  lendir  pucat  (anemik),  merah  (demam),  ungu  merah  (keracunan), kuning (penyakit kuning, hepatitis)
- Pada kulit ada bagian yang luka, gundul, iritasi atau ada parasit.
- Bulu kusam atau kotor. Kotoran berasal luka, vagina atau diare.
- Ada luka atau pembengkakan.
- Hewan kekurangan cairan yang ditandai dengan kulit yang tidak lemas  atau  tidak  elastis,  bila dicubit,  kulit  terangkat  dan  tidak  kembali dengan segera
-  Tanda-tanda  diare  :  Anus  kotor,  basah  atau  terbuka,  sedangkan 
feses keras, berlendir, cair, ada darah atau cacing.
-  Tanda-tanda  lainnya  :  perut  kembung  (timpani),  hernia,  ada  rasa  nyeri, bengkak, panas atau luka pada bagian tubuh, dll.
-   Stress   akibat   perlakuan   pada   saat   perjalanan   jauh   sampai   diturunkan dari kendaraan pengangkut.

Penyebab Hewan Sakit
-     Gizi  buruk  pada  anak  domba/kambing  sehingga  pertumbuhan  badan terganggu dan hewan menjadi mudah sakit dan mati.
- Sisa-sisa pakan tidak dibuang dan dibiarkan membusuk sehingga menimbulkan   bau   yang   tidak   sedap   dan   menurunkan   nafsu   makan domba.
- Pakan hijauan tidak dipotong-potong, sedikit yang dimakan atau banyak  yang  terbuang,  kasar  sehingga  dapat  melukai  bibir  atau  lidah domba.
-  Kematian   domba/kambing   akibat   diare,   terperosok   ke   dalam   lantai kandang, tergencet induk.
-  Cara  mengikat  domba  kurang  tepat  sehingga  tali  atau  tambang  membelit badan atau kaki.
- Jumlah domba/kambing di dalam kandang terlalu padat
- Kotoran yang menumpuk di kolong kandang jarang dibersihkan, baunya    menimbulkan   gangguan    pada    ternak    domba    dan    lingkungan.
    - Anak    domba/kambing    mudah    terperosok    ke    dalam    lantai    kandang.


 Penyakit yang sering menyerang Ternak Domba
1.   Penyakit   Mencret
Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba
berusia 3 bulan.
Pengobatan : antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.
2.   Penyakit Radang Pusar
Penyebab : alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar  oleh  bakteri  Streptococcus,  Staphyloccus,  Escherichia  oli  dan  Actinomyces  necrophorus.  Usia  domba  yang  terserang  biasanya cempe usia 2-7 hari.
Gejala :   terjadi   pembengkakan   di   sekitar   pusar   dan   apabila   disentuh domba akan kesakitan. Pengendalian:  dengan  antibiotika,  sulfa  dan  pusar  dikompres  dengan larutan rivanol (Desinfektan).
3.   Penyakit   Orf
Penyakit Orf atau ektima kantangiosa adalah sejenis penyakit pada kulit  yang    menyebabkan  gejala  melepuh  (exanthemous)  pada  kulit terutama daerah mulut, sering menyerang ternak domba dan kambing (Darmono dan Hardiman, 2011). Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus virus parapox dari keluarga virus Poxviridae.
Gejala :  terjadi  keropeng  atau  tonjolan-tonjolan  di  sekitar  mulut,  penyakit ini dapat timbul tidak hanya di sekitar mulut tetapi juga dapat  timbul  pada  hidung,  sekitar  mata,  telinga,  perut/kulit  di  lipatan perut, kaki, kantong buah zakar, ambing, puting susu atau vulva. Penyebaran dapat melalui kontak langsung dari domba yang sakit atau melalui makanan yang tercemar lepuhan dari keropeng, ataupun dari pakan yang berduri sehingga menimbulkan luka di sekitar mulut domba.
Pengendalian  :    sanitasi    lingkunga,    pemisahan    ternak    sakit,    pengobatan  dengan  cara  menggosok  keropek  sampai  terluka  kemudian  pada  luka  diolesi  oleh  larutan  iodine  atau  methylene  blue.
4.   Penyakit   Pink Eye
Penyakit  ini  menyerang  pada  bagian  mata,  penyakit  ini  bisa  menyerang ternak domba, kambing, sapid an kerbau. Penyakit ini dapat menular secara langsung melalui lelehan cairan dari ternak yang  sakit  atau  melalui  media  debu,  lalat  atau  percikan  air  yang  tercemar bakteri.
Gejala  :   kemerahan   dan   peradangan   pada   konjuntiva   atau   kekeruhan pada kornea mata. Pengendalian   :    menjaga    kebersihan    lingkungan    kandang,    memisahkan  ternak  sakit,  pengobatan  dapat  dilakukan  dengan  mengoleskan   salep   atau   cairan   antibiotic   pada   mata   yang   terserang.
5.   Penyakit Cacar Mulut
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan.
Gejala :   cempe   yang   terserang   tidak   dapat   mengisap   susu   induknya  karena  tenggorokannya  terasa  sakit  sehingga  dapat  mengakibatkan kematian.
Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau pinicillin.
6.   Penyakit   Titani
Penyebab : kekurangan Defi siensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn).
Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
 Gejala  :  domba  selalu  gelisah,  timbul  kejang  pada  beberapa  ototnya bahkan sampai keseluruh badan. Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium.
7.   Penyakit Radang Limpah (Antrax)
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia. Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
Gejala:  suhu  tubuh  meninggi,  dari  lubang  hidung  dan  dubur  keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
Pengendalian: dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G,  dengan  dosis  6.000-10.000  untuk  /kg  berat  tubuh  domba  tertular.
8.   Penyakit Mulut dan Kuku
Penyakit  menular  ini  dapat  menyebabkan  kematian  pada  ternak  domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku. Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba .
Gejala : mulut melepuh diselaputi lendir.
Pengendalian : membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan  menggunakan  larutan  Aluminium  Sulfat  5%,  sedangkan  pada  kuku  dilakukan  dengan  merendam  kuku  dalam  larutan  formalin atau Natrium karbonat 4%.
9.   Penyakit   Ngorok
Penyebab : bakteri Pasteurella multocida.
Gejala  :  nafsu  makan  domba  berkurang,  dapat  menimbulkan  bengkak  pada  bagian  leher  dan  dada.  Semua  usia  domba  dapat  terserang  penyakit  ini,  domba  yang  terserang  terlihat  lidahnya  bengkak  dan  menjulur  keluar,  mulut  menganga,  keluar  lender  berbuih dan sulit tidur.
Pengendalian :  menggunakan  antibiotika  lewat  air  minum  atau  suntikan.
10. Penyakit Perut Kembung
Penyebab :  pemberian  makanan  yang  tidak  teratur  atau  makan  rumput yang masih diselimuti embun. Gejala :  lambung  domba  membesar  dan  dapat  menyebabkan  kematian.  Untuk  itu  diusahakan  pemberian  makan  yang  teratur  jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi.
Pengendalian :  memberikan  gula  yang  diseduh  dengan  asam,  selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.
11. Penyakit Parasit Cacing
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.
Penyebab  :  cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).
Pengendalian : diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220 mg/kg berat tubuh domba. Sebagai usaha pencegahan dapat  diberikan  obat  cacing  secara  berkala  setiap  4  –  6  bulan  sekali.
12. Penyakit Kudis
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba.
Penyebab  :  parasit  berupa  kutu  yang  bernama  Psoroptes  ovis,  Psoroptes  ciniculi  dan  Chorioptes  bovis.  Gejala  :  tubuh  domba  lemah,  kurus,  nafsu  makan  menurun  dan  senang  menggaruk  tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.
Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
13. Penyakit Dermatitis
Adalah  penyakit  kulit  menular  pada  ternak  domba,  menyerang  kulit   bibit   domba.   Penyebab:   virus   dari   sub-group   Pox   virus   dan  menyerang  semua  usia  domba.  Gejala  :  terjadi  peradangan  kulit  di  sekitar  mulut,  kelopak  mata,  dan  alat  genital.  Pada  induk  yang  menyusui   terlihat   radang   kelenjar   susu. 
Pengendalian   :   menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.
14. Penyakit Kelenjar Susu
Penyakit  ini  sering  terjadi  pada  domba  dewasa  yang  menyusui,  sehingga air susu yang diisap cempe tercemar. Penyebab : ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan. Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.  Pengendalian  :  pemberian  obat-obatan  antibiotika  melalui air minum.

Secara  umum  pengendalian  dan  pencegahan  penyakit  yang  terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:
a)   Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
b)   Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
c)   Memberikan  nutrisi  dan  makanan  penguat  yang  mengandung  mineral, kalsium dan mangannya.
d)   Memberikan   makanan   sesuai   jadwal   dan   jumlahnya,   Hijauan   pakan  yang  baru  dipotong  sebaiknya  dilayukan  lebih  dahulu  sebelum diberikan.
e)   Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
f )   Sanitasi  yang  baik,  sering  memandikan  domba  dan  mencukur  bulu.
g)   Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
h)   Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.

sekian semoga bermanfaat, sekian dan terimakasih. salam cinta dari ujung kandang hidup peternakan indonesia :)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "PEDOMAN LENGKAP TEKNIS BUDIDAYA TERNAK DOMBA KAMBING"

Post a Comment

silakan berkomentar dengan sopan yah :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel